DaerahPariwisata

Tiket masuk Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Sudah Melalui Kajian Para Ahli

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan telah mendengar banyak aspirasi dan kekhawatiran dari beragam pihak mengenai rencana kenaikan tarif tersebut. “Ini masih sedang kita finalkan. Rencanannya akan ke Labuan Bajo untuk berdiskusi karena betul banyak yang menyampaikan aspirasi, banyak yang menyampaikan kekhawatiran. Ini yang harus kita dengarkan secara komperhensif dan menawarkan beberapa harapan untuk perbaikan di masa mendatang,” kata Sandiaga Uno dalam Weekly Press Brifing (WPB) Kemenparekraf pada Senin (18/07). Sandiaga menambahkan, aspek konservasi akan menjadi prioritas secara lebih dari aspek komersialiasasi dalam pengelolaan. “Dan juga aspek dari segi pemberdayaan masyarakat setempat dan membuka peluang ekonomi berkearifan lokal, ini juga yang akan kita dorong dalam konsep pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.

Sandiaga Uno menjelaskan, kenaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi Rp 3,75 juta untuk biaya konservasi nilai jasa ekosistem lingkungan di kawasan Taman Nasional Komodo. Menurutnya, angka ini tidak muncul tiba-tiba tetapi sudah melalui kajian dari para ahli dengan memasukkan keseluruhan dari biaya konservasi nilai jasa ekosistem selama satu tahun. Nilai jasa ekosistem adalah sumber daya alam yang menunjang keberlangsungan kehidupan makhluk hidup, seperti air, oksigen, sumber makanan, dan mencakup pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh wisatawan. Selain itu, biaya ini juga sudah termasuk dengan tiket masuk kawasan TNK dan pemberian suvenir buatan masyarakat sekitar Pulau Komodo bagi wisatawan yang datang berkunjung. “Ini merupakan suatu keinginan bagi tugas dan tanggung jawab kita masing-masing untuk menjaga kelestarian dari apa yang dititipkan kepada kita untuk nanti jutaan dan puluhan juta tahun ke depan karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan karunia kekayaan alam yang perlu kita jaga bersama,” kata Sandiaga dalam keterangannya, Selasa (12/7/2022).

Sandiaga menilai kebijakan ini akan bisa menarik lebih banyak wisatawan yang menghargai upaya konservasi dan ikut membangun destinasi-destinasi lain di Nusa Tenggara Timur sebagai destinasi wisata unggulan. Sandiaga juga mengungkapkan melalui biaya konservasi ini diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah untuk menjaga kelestarian alam serta bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo. “Jadi menurut saya kita akan fokus kepada pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan dan tentunya akan memberikan manfaat bukan hanya dari sisi ekonominya saja, tapi juga dari sisi pelestarian lingkungan dan segala aspek,” katanya.

Pembangunan di TN Komodo dan sekitarnya masih mendapatkan penolakan dari masyarakat setempat. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengungkapkan, negosiasi terus dilakukan. Sandiaga Uno menekankan, pembangunan TN komodo mengedepankan keberlangsungan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip pariwisata berkualitas dan berkelanjutan juga jadi dasar utama yang harus dilakukan dalam pengembangan pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo. “Negosiasi dan diskusi terus kami jalankan dengan masyarakat setempat. Kami menekankan bahwa pembangunan ini mengedepankan keberlangsungan lingkungan hidup dan dilakukan secara hati-hati,” kata Sandiaga Uno. Sandiaga mengungkapkan, sarana-prasarana yang dibangun bertujuan untuk meminimalisir interaksi antara wisatawan dengan hewan-hewan di kawasan TN Komodo, terutama komodo itu sendiri. “Sehingga, komodo dan satwa liar lainnya tidak terganggu dan aktivitas ekowisata berkualitas dapat berjalan,” tambah Sandi.

Dalam pembangunan produk wisata di Labuan Bajo, Kemenparekraf akan memaksimalkan kekuatan budaya dan konten lokal yang otentik. Tentunya dengan melibatkan komunitas-komunitas yang ada. “Saat ini Kemenparekraf juga Badan Pariwisata Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mendorong inkubasi berbagai kegiatan kreatif seperti seni pertunjukan, seni musik, seni tari, fesyen, juga kuliner,” ungkap Sandi. Selain itu, pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat juga dilakukan agar apa yang mereka kerjakan bisa memberikan manfaat kesejahteraan dari sisi pariwisata. “Intinya, kami ingin melibatkan masyarakat untuk ikut serta merasakan dampak ekonomi yang dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Labuan Bajo dan sekitarnya, khususnya yang berada di sekitar TN Komodo,” ungkapnya. (MTM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *