DaerahEkonomi & Bisnis

Terapkan Energi Terbarukan, PLTMH Gunung Halu Bangkitkan Perekonomian Kampung Tangsi Jaya

Penerapan energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Gunung Halu, berhasil menghidupkan perekonomian Kampung Tangsi Jaya, Kabupaten Bandung Barat.

Tangsi Jaya yang dahulunya tidak mendapatkan aliran listrik, mampu tumbuh pesat menjadi kampung yang menciptakan energi listriknya sendiri dari penerapan energi terbarukan PLTMH Gunung Halu.Berkat pemanfaatan tersebut, Kampung Tangsi Jaya mampu hidup “sejahtera” dengan mendapatkan pencahayaan dan aliran listrik untuk kehidupan sehari-hari warga sekitar.

“Dulu itu, tidak ada penerangan sama sekali sebelum adanya PLTMH. Lalu disini dulu tidak ada alat elektronik, seperti magic com, kulkas, pesawat TV itu semua tidak ada. Jadi ekonomi sebelum ada mikrohidro ini, masih di bawah perekonomiannya,” ujar Pengelolaan PLTMH Gunung Halu, Toto Sutanto (45) saat ditemui di Kampung Tangsi Jaya pada Rabu, (24/1/2024).

Diketahui PLTMH Gunung Halu merupakan dana hibah dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007. Dengan kapasitas 18 kWh, penerapan energi terbarukan ini mampu mengaliri 80 rumah di Kampung Tangsi Jaya.

Pasalnya, sebagain besar warga di Kampung Tangsi Jaya merupakan petani kopi.

“Dari PLTMH, listrik masuk ke pabrik kopi terlebih dahulu untuk pengelolahan kopi. Jika di hitung-hitungan, pabrik kopi hanya menggunakan 12 kWh kalau semua mesin digunakan. Kalau misalkan tidak kuat, pasti kami off terlebih dahulu ke warga. Tapi alhamdulilah sampai sekarang, saya tidak pernah mematikan listrik ke warga,” katanya.

Secara keseluruh, PLTMH Gunung Halu hanya mengalirkan listrik ke Kampung Tangsi Jaya.

Meskipun masih terdapat listrik dari PLN, jumlahnya hanya terbilang 10 persen saja.

Dengan kata lain, mayoritas di Kampung Tangsi Jaya sudah menggunakan energi terbarukan dari PLTMH Gunung Halu.

Toto yang merupakan Sekertaris Koperasi Rimba Lestari menjelaskan, untuk biaya pengaliran listrik dari PLTMH Gunung Halu warga sekitar hanya perlu membayar Rp 25 ribu, untuk daya listrik 450 watt. Namun meskipun begitu, terdapat beberapa bangunan dan rumah yang tidak mendapatkan beban pembayaran.

“Sekolah, mesjid, Paud, terus orang-orang jompo, mereka tidak perlu membayar. Karena PLTMH ini hibah dari pemerintah. Kami koperasi di sini sebenarnya hanya mengelola saja, hari bukan milik kami tapi ini milik masyarakat,” katanya.

Toto mengatakan, demi mengembangkan energi terbarukan agar bisa dimanfaatkan dengan lebih luasnya lagi kepada masyarakat sekitar, khusunya Kampung Tangsi Jaya. PLTMH Gunung Halu berencana akan ditambah satu unit.

“Mudah-mudahan tahun sekarang kami akan buat lagi yang baru. Untuk bendungan dan salurannya masih tetap sama, tapinkalau misalkan pembangkit dan rumah pembangkitnya itu beda,” ujarnya.

Di sisi lain, Manajer Program Transformasi Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo mengatakan, PLTMH Gunung Halu bisa menjadi untuk pemanfaatan energi terbarukan agar bisa lebih diptimalkan.

“Ini contoh nyata energi terbarukan dalam mewujudkan demokratisasi energi. Masih ada potensi PLTMH di Jawa Barat berdasarkan kajian IESR sekitar 200 – 1.000 mW. Pemerintah perlu mendukung dengan memberikan penguatan kapasitas BUMDes atau koperasi masyarakat untuk mengelola pembangkit listrik terbarukan skala kecil tersebar,” ucapnya. (MTM)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *