HiburanInternasionalPariwisata

Ibadah Haji, Perjalanan antara Dunia dan Akhirat

Ibadah Haji merupakan rukun Islam yang ke lima yang tentunya wajib disempurnakan bagi yang mampu. Orang muslim yang memiliki kekayaan yang melimpah dan belum melaksanakan haji tentunya harus menyadari begitu pentingnya melaksanakan haji. Namun ketika sudah bisa berangkat haji, meski memiliki strata sosial tinggi maka harus rendah hati ketika berada di tanah suci. Hal tersebut sebagai bentuk syukur karena setiap nikmat dan kekayaan datangnya dari Allah, ketika seseorang dekat dengan Allah, Allah tidak melihat seberapa besar kekayaan namun seberapa besar ketakwaannya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, seperti halnya sombong dan menzalimi orang lain maka balasan akan menimpanya.

Seorang Muthawif menceritakan pengalamannya saat bertugas bahwa ada jamaah haji yang setara sosialnya tinggi namun memiliki sifat sombong dan menzalimi orang lain sehingga mendapatkan balasan saat itu juga. Muthawif tersebut mengatakan, ada dua rombongan haji yang bisa dikatakan dari dua rombongan ini berbeda beda dalam strata sosialnya, ada yang tinggi dan rendah. Kedua rombongan itu berangkat haji bersamaan karena dalam satu travel, namun ketika berangkat menggunakan mobil yang berbeda.

Ketika sudah melaksanakan sebagian rangkaian ibadah haji dan berada di Muzdalifah tentunya orang orang harus bermalam mengambil batu untuk melempar jumrah aqabah, ula, wustha yaitu sebanyak 21 batu. Berbeda dengan jamaah yang setara sosialnya tinggi ini, mereka enggan mengambil batu sendiri, sehingga dia menyuruh yang strata sosial bisa dikatakan rendah untuk pengambilkan batunya. “Mereka yang strata sosialnya tinggi menyuruh untuk mengambilkan batu, mereka mengatakan kepada jamaah yang setrata rendah, pada saat di Mina batunya berikan ke saya.” kata Muthawif tersebut. Namun ketika di Mina, kedua jamaah haji ini heran karena batu yang sudah benar benar dibawa untuk jamaah yang strata sosial tinggi hilang seketika. “Ketika sampai di Mina, pada saat mau lempar jumroh, batu yang sudah di ambil jamaah ini hilang.” kata Muthawif.

Dari kejadian tersebut jamaah yang strata sosial tinggi tersebut menyesal karena telah memiliki sifat sombong sehingga harus gagal melaksanakan sebagian rangkaian Ibadah Haji. “Pada saat akan melempar jumrah mereka tidak bisa melakukan lemparan jumrah tersebut.” kata Muthawif. Itulah kisah jamaah memiliki sifat sombong dan zalim terhadap orang lain membawa mudharat untuk dirinya sendiri. Ibadah Haji bukanlah urusan mampu dan tidak mampu karena Allah memudahkan siapa yang ia kehendaki. Tidak sedikit orang yang ekonominya bisa dikatakan rendah namun bisa melaksanakan haji, sebaliknya orang yang memiliki kekayaan yang melimpah namun belum juga bisa melaksanakan haji. Ibadah Haji, Perjalanan antara Dunia dan Akhirat. (MTM)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *